Wednesday, October 8, 2008

Panduan Saji Susu Formula

ASI jelas asupan terbaik bagi si kecil. Namun, adakalanya kondisi ibu tidak memungkinkannya memberikan ASI kepada sang buah hati. Pada kondisi seperti itulah, dengan amat terpaksa orangtua harus rela memberikan susu formula kepada bayinya.Apa yang mesti dilakukan ketika bayi harus berpindah dari ASI ke susu susu formula?
Yang pertama harus diketahui adalah semua susu formula dengan bahan susu sapi memiliki kandungan yang hampir sama. Dr. Christina K. Nugrahani, M.Kes., Sp.A., yang praktik di RS FMC (Family Medical Center) Bogor mengatakan, "Karena semuanya mengacu pada standar kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang sesuai dengan RDA (Recommended Dietary Association)." Simak saja keterangan tentang kandungan nutrisi yang tercantum dalam setiap kemasan susu. Jadi, tak perlu terkecoh dengan beragam promosi tentang adanya suplemen tertentu, sebab rata-rata semuanya sama saja.Sementara itu, ramainya isu soal susu tercemar bakteri bukan tidak mungkin membuat kita, para orangtua gusar. Karena itu agar aman perhatikan beberapa berikut ini:Langkah pertama yang dilakukan untuk menyiapkan susu formula adalah membersihkan dan mensterilisasi peralatan yang akan digunakan. Selanjutnya menyiapkan dan menyajikan susu formula. Berikut tahapan yang dilakukan untuk membersihkan dan mensterilisasi peralatan:
  1. Sterilkan peralatan minum bayi. Cuci tangan dengan sabun sebelum melakukan sterilisasi.
  2. Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol, sikat dot) dengan sabun dan air bersih yang mengalir.
  3. Gunakan sikat botol untuk membersihkan bagian dalam botol dan sikat dot untuk membersihkan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan.
  4. Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir.
  5. Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan.
  6. Bila mensterilisasi dengan cara direbus:- Botol harus terendam seluruhnya sehingga tidak ada udara di dalam botol.- Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5–10 menit.- Biarkan botol dan dot di dalam panci tertutup dan air panas sampai segera akan digunakan.
  7. Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot.
  8. Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus:- Keringkan botol dan dot dengan menempatkannya di rak khusus botol pada posisi yang memungkinkan air rebusan menetes.- Setelah kering, botol disimpan di tempat yang bersih, kering, dan tertutup.- Dot dan penutupnya terpasang dengan baik.
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan dan menyajikan susu formula. Berikut tahapan yang dapat dilakukan:
  1. Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula.
  2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan dengan lap bersih.
  3. Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup.
  4. Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci atau ketel tertutup selama 10–15 menit agar suhunya turun menjadi kurang lebih 70? C. Atau gunakan 1 bagian air dingin dicampur dengan 2 bagian air panas.
  5. Tuangkan air tersebut sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
  6. Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi.
  7. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik.
  8. Coba teteskan susu pada pergelangan tangan. Bila masih terasa panas, dinginkan segera dengan merendam sebagian badan botol susu di dalam air dingin bersih sampai suhunya sesuai untuk diminum.
  9. Sisa susu yang telah dilarutkan dalam botol sebaiknya dibuang setelah 2 jam. Dalam suhu udara biasa di ruangan terbuka, susu formula yang belum diminum dapat bertahan 3 jam. Bila disimpan dalam kulkas dapat bertahan 24 jam. Hangatkan dengan cara merendam dalam air panas sebelum diberikan.

Rokok Elektronik Bukan Terapi Pengganti Nikotin

Rokok elektronik belum teruji benar sebagai terapi pengganti bagi perokok yang berusaha menghentikan kebiasaan mereka. Demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat yang tentu saja bertolak-belakang dengan apa yang dikatakan sebagian staf penjualan dalam iklan mereka. "Rokok elektronik tak terbukti sebagai terapi pengganti nikotin," kata Dr. Ala Alwan, Asisten Direktur Jenderal WHO Urusan Penyakit Menular dan Kesehatan Mental. "WHO tak memiliki bukti ilmiah untuk mengkonfirmasi keefektifan dan keamanan produk tersebut. Staf pemasarannya mesti segera mencabut dari laman Internet mereka dan bahan informasi lain yang menyatakan bahwa WHO menganggapnya sebagai bantuan efektif dan aman untuk menghentikan kebiasaan merokok," kata Alwan dalam satu pernyataan.
Rokok elektronik yang khas terbuat dari baja anti-karat, memiliki lubang untuk menaruh nikotin cair dalam berbagai konsentrasi, dialiri daya dari bateri yang dapat diisi-ulang dan menyerupai rokok sesungguhnya. Pemakainya menggunakan rokok elektronik seakan-akan itu adalah rokok sesungguhnya, tapi mereka tak menyalakannya, dan itu tak menghasilkan asap. Tetapi, rokok elektronik menghasilkan asap panas yang nikmat, yang diserap ke dalam paru-paru. Rokok elektronik, yang dikembangkan di China pada 2004, dijual di sana dan di sejumlah negara lain, termasui di Brazil, Kanada, Finlandia, Israel, Lebanon, Belanda, Swedia, Turki dan Inggris. Penjual rokok elektronik secara khusus menggambarkannya sebagai cara untuk membantu perokok menghentikan kecanduan mereka terhadap tembakau.
Sebagian penjual malah telah bertindak terlalu jauh dengan menyatakan bahwa WHO memandangnya sebagai terapi pengganti nikotin yang absah seperti permen karet nikotin dan lozenge, demikian antara lain isi pernyataan WHO. Namun WHO tak memiliki bukti yang mendasar bagi pernyataan para penjual tersebut bahwa rokok elektronik membantu orang berhenti merokok, katanya. "Jika para penjual rokok elektronik ingin membantu orang berhenti merokok, maka mereka perlu melakukan studi klinik dan analisi kadar racun serta beroperasi di dalam kerangka kerja peraturan yang layak," kata Douglas Bettcher, pemimpin Tobacco Free Initiative di WHO.

Kipas Angin Cegah Kematian Bayi

Penggunaan kipas angin ketika bayi sedang tidur dapat secara mencolok mengurangi sindrom kematian bayi secara tiba-tiba (SIDS). Demikian hasil penelitian terbaru di AS yang diumumkan Senin (6/10) dan dilansir kantor berita China, Xinhua. Studi tersebut, yang dilakukan oleh para peneliti di lembaga medis AS, Kaiser Permanente, adalah yang pertama yang memusatkan perhatian hubungan antara saluran udara ruangan dan SIDS.Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ketika bayi terlelap di satu ruangan yang pertukaran udaranya dilakukan oleh kipas angin, terdapat 72 persen risiko yang lebih rendah akan SIDS dibandingkan dengan yang dihadapi bayi yang tidur di satu ruangan tanpa kipas angin. Tidur di ruangan dengan jendela terbuka juga berhubungan dengan rendahnya risiko sindrom tersebut.
Laporan itu disiarkan dalam edisi paling akhir Archives of Pediatric & Adolescent Medicine. "SIDS sangat merusak dan misterius," kata pemimpin peneliti itu, Dr De-Kun Li, ahli reproduksi dan epidemiologi prakelahiran di divisi penelitian Kaiser Permanente di Oaklanda, Northern California. "Kami tak melihat kecondongan dalam temuan kami bagi penggunaan kipas angin. Tetapi ada masalah keselamatan umum. Jika Anda mempunyai bayi, pastikan bahwa mereka tak memasukkan jari mereka ke dalam kipas angin."Sindrom kematian bayi secara tiba-tiba ditandai dengan kematian bayi secara mendadak yang sering kali tak dapat dijelaskan. Meskipun itu dapat terjadi pada anak-anak hingga ulang tahun pertama mereka, lebih khusus itu terjadi pada bayi dalam usia enam bulan pertama mereka.
Menurut American SIDS Institute, sebanyak 2.500 SIDS terjadi setiap tahun di Amerika Serikat. Dengan meningkatnya saluran udara di satu ruangan, kipas angin dapat membuyarkan karbon dioksida yang bertumpuk di ruang udara tertutup di sekitar hidung dan mulut bayi di lingkungan tempat mereka tidur, kondisi ini meningkatkan risiko pengambilan napas kembali, kata banyak ahli.Studi tersebut dipusatkan pada 497 bayi di 11 wilayah di seluruh California, 185 di antara bayi itu meninggal akibat SIDS.